



Museum Renaissance BLANCO adalah sebuah penghargaan terhadap seniman besar DON ANTONIO BLANCO yg terletak di rumahnya, Campuhan-Ubud. Lokasinya yg tepat diatas sungai Campuhan dengan hawa perbukitan yg sejuk dan tenang, membuat Antonio Blanco menerima tanah pemberian Raja Ubud ini untuk dijadikan rumah sekaligus studio seni-nya. Blanco bukan hanya seorang pelukis, dia adalah seniman serba bisa. Pelukis kelahiran Spanyol th 1911 ini pernah menjadi aktor di Hollywood, juga suka membuat puisi-puisi yg dipadukan dengan unsur seni rupa lainnya. Yang tidak bisa ditiru dari seorang Blanco adalah kemampuannya dalam menggambarkan keindahan wanita. Semua lukisan Blanco bertemakan keindahan wanita dalam bentuk wanita yg sedang telanjang. Berbeda dengan pornografi, lukisan Blanco benar-benar adalah art kelas tinggi. Model yg dipakai adalah istrinya sendiri, Ni Rondji, anak sulungnya Tjempaka Blanco, dan model-model lain yg dianggap layak untuk diabadikan keindahannya. Tidak heran, Presiden Soekarno pada jamannya sering mengunjungi rumah Blanco, kedua-duanya adalah penganggum wanita.
Antonio Blanco meninggal th 1999 dalam usia 88 tahun. Sang Maestro diaben dengan upacara Hindu di Ubud. Satu-satunya anak laki yg dimiliki oleh Antonio Blanco, Made Mario Blanco kini meneruskan kemaestroan bapaknya. Lukisan Mario berbeda dengan lukisan Antonio. Mario lebih menjadikan sesuatu benda sbg obyek dengan gaya 3 dimensi yg luar biasa. Terus terang saya lebih menyukai lukisan Mario daripada Antonio. Kesamaan bapak anak ini adalah kreativitas yg luar biasa dalam membuat bingkai/pigura. Kita tidak akan menjumpai model dan style pigura seperti yg dipakai pada lukisan Blanco. Sangat unik sangat menarik. Saya kenal keluarga Blanco ini th 1993-1994, saat itu saya berkawan akrab Iwan, keponakan Ni Rondji, yg kebetulan dari kecil sudah diajak tinggal dikeluarga Blanco. Sering saya menemani Iwan menunggui rumah Blanco yg di Sanur. Dan kalo ke Ubud rumahnya Blanco, sering dulu ikut makan disana. Jangan pikir makanannya elite, adanya cuman nasi ketela kayak makanan orang-orang kita era th 1940-1960. Yg saya tahu saat itu, kalau Antonio Blanco yg dirumahnya disebut TUAN sedang melukis, tidak diperbolehkan masuk ke studio lukisnya. Satu kata yg sering diucapkan oleh Tuan saat sedang marah adalah “Sakit Gede”, ekspresi khas orang Ubud kalau sedang marah yg kira-kira artinya sama dengan “wong uedaann…!!” hehehehe…
Cukup dengan membayar tiket masuk Rp.20.000.- per orang, kita tidak akan rugi mengunjungi Museum Blanco. Rumah yg asri dan sangat hijau, burung-burung jenis golden macaw, kakatua raja dan kakatua putih menjadi pemandangan yg menarik. Kita akan dipandu oleh staff yg ada disini untuk melihat museum berlantai dua tempat lukisan asli Blanco berada. Didepan museum terpampang megah tanda tangan Antonio Blanco yg dibuat dalam kertas lipatan. Didalam museum terlihat banyak lukisan Antonio Blanco terpajang didinding lantai 1 dan 2. Sorry guys, no camera allowed here..!!!. Selanjutnya menuju ke ruangan yg ada photo-photo Antonio dengan keluarga dan orang-orang penting, yg tembus ke ruangan tempat Mario Blanco memajang karya-karyanya. Terakhir adalah studio tempat Blanco melukis yg sekarang dipakai Mario untuk melukis. Kalo mau photo bergaya bak pelukis, dipersilahkan. Disini juga disediakan souvenir yg bisa kita beli bawa pulang berupa foto lukisan asli Antonio Blanco yg ditempel diatas selembar kertas dan ditandatangani oleh Mario. Kalau mau nambahin tulisan lain misalnya “Kenang-kenangan untuk (siapa)”, tinggal kasih tahu staffnya aja, nanti dia akan minta Mario menuliskan sekaligus membubuhkan tanda tangannya. Oh yah, Mario Blanco mostly berada dirumah itu setiap harinya, so kita bisa ngobrol-ngobrol sama dia. Lihat juga web Blanco di http://blancobali.com










Pengaturan ...

Kategori
Tag Cloud
Blog RSS
Komentar RSS

Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 